Showing posts with label story. Show all posts
Showing posts with label story. Show all posts

October 29, 2009

Nikko: Musim Gugur, Kembali ke Edo, hingga Mimpi tentang Bintang














Catatan | Faris Alfadh

Daun yang berubah warna menjadi kuning keemasan atau merah marun, memancarkan keindahan tersendiri seiring angin musim gugur menyapa pepohonan yang perlahan melepaskan daun-daun mereka berguguran ke tanah. Keindahan akan musim gugur selama ini hanya bisa saya nikmati melalui lukisan cerita dan poster-poster. Maklum di Indonesia dan juga negara-negara tropis lainnya hanya ada musim panas (yang kadang kebangetan) serta musim hujan (yang kerap membawa serta banjir).

Saat ini Jepang sedang memasuki musim gugur, namun masih awal-awal. Sehingga di sebagian besar prefecture, pergantian musim yang ditandai dengan perubahan warna serta gugurnya daun-daun, belum tampak sempurna—termasuk di Tokyo. Namun hari Kamis hingga Sabtu 22-24 Oktober kemarin, saya betul-betul menyaksikan keindahan musim gugur, tatkala bersama beberapa teman yang juga menerima beasiswa riset Jenesys Programme dari Japan Foundation berkunjung ke Nikko—salah satu tempat wisata paling eksotis di Jepang, kurang lebih tiga jam dari Tokyo. Di Nikko musim gugur datang lebih awal.

Sebelum ke Nikko, Kamis pagi, kami diberi waktu untuk melakukan research presentation di kantor pusat Japan Foundation Tokyo. Dihadiri beberapa Officer JF serta tiga Professor dari kampus terkemuka di Jepang. Dan untuk pertama kalinya pula kami, para penerima beasiswa, bertemu. Ada sekitar delapan belas mahasiswa Master dan Ph.D. (yang tentu saja masih muda-muda), datang dari negara-negara se-Asia Pacific dan tersebar di beberapa kampus di Jepang. Kebetulan dari Indonesia dua orang: saya dan Retno, mahasiswi master Japanese Studies, UI.

Sungguh menyenangkan bertemu dengan teman-teman baru dari berbagai negara ini. Selain masih muda-muda mereka juga tampak sangat bersemangat. Mengakrabi teman-teman baru dari berbagai negara ini memberikan pelajaran tersendiri. Paling tidak saya mulai bisa mengidentifikasi satu demi satu kebiasaan dan sifat mereka, terutama terkait representasi kultur sosial negara masing-masing.

Indonesia, Malaysia, dan Singapore, karena ketiga negara jiran ini memiliki kedekatan etnis budaya dan bahasa (Singapore, walaupun bahasa yang kerap digunakan adalah Inggris, namun official language mereka tetap bahasa melayu), kami cenderung cepat akrab. Apalagi selama perjalanan, kami kadang bercakap dengan bahasa melayu. Begitu pula teman-teman dari Thailand dan Laos. Selain dekat secara territorial, bahasa yang digunakan oleh kedua negara ini pun sama persis.

Yang menarik adalah teman kami dari Miyanmar (Burma). Mereka cenderung tidak terlalu banyak bicara, apalagi mengenai persoalan politik. Saya menduga ini terkait situasi politik negara mereka yang masih di bawah junta militer. Apalagi prospek demokrasi di negara ini masih limbung dan terlihat suram. Kasus penahanan Aung San Suu Kyi, misalnya, yang kerap diperbincangkan hangat di dunia internasional, menjadi bukti bahwa demokrasi di negara yang telah diperintah oleh militer sejak tahun 1988 ini sulit bernafas. Kasus ini pula yang kerap menjadi kendala dalam forum-forum ASEAN, terkait proses demokratiasasi dan HAM.

Sementara itu teman-teman kami dari Jepang, yang sekaligus sebagai tuan rumah, rata-rata sangat baik. Namun terdapat sedikit perbedaan secara kultur sosial, terutama dengan kita dari Indonesia. Tidak seperti orang Indonesia yang suka ngobrol dan cepat akrab dengan orang lain, walau baru kenal di kereta lima menit yang lalu. Nah, orang-orang Jepang tidak demikian. Mereka lebih bisa mengendalikan diri untuk tidak membicarakan hal-hal paling personal. Mereka baru akan banyak terbuka jika betul-betul sudah akrab dan merasa sangat comfortable.

Dari semua participants, yang paling asyik sekaligus “heboh” tentu saja dari India. Di Indonesia kebudayaan India mungkin tidak terlalu asing, terutama karena faktor film-film Bollywood yang cukup banyak digandrungi. Kultur yang sangat khas adalah tarian dan nyanyian. Teman-teman saya di Jogja bahkan berkelakar mengenai kebiasan orang India yang suka bernyanyi dan menari ini. Kata mereka, jika melihat pohon dan taman dengan bunga-bunga saja, maka orang-orang India akan spontan langsung menyanyi. Nah apakah hal itu memang benar? Tentu saja saya tidak percaya. Wong selama ini kita hanya berkelakar, dan yang kita tonton juga film yang bisa jadi tidak sepenuhnya benar.

Namun dalam perjalanan dengan bus wisata ke Nikko kemarin. Ada yang menarik. Syahdan, tiba-tiba saja seorang perempuan berdiri dan berbicara dengan suara agak sedikit tinggi. Intinya ia meminta perhatian dari kami semua. Ya, ternyata teman kami dari India. Kami menunggu apa gerangan yang akan ia katakana selanjutnya. Dan ternyata:

“We have songs for you, guys.” (gubraak!!)

Walhasil, sepanjang perjalanan, tour guide leader kami pun sibuk mondar-mandir mempersiapkan alat untuk bernyanyi: dari microphone hingga beberapa hal yang siap mengubah bus wisata kami menjadi ruang karaoke!

***
Banyak sekali pengalaman menarik dan unik yang saya alami selama di Nikko. Salah satunya adalah menginap di daerah Kinugawa Onsens (kalau saya tidak salah). Sebuah Hotel dengan pelayanan khas tradisional Jepang, terletak di kaki sebuah bukit, tepat di pinggir sungai yang airnya mengalir jernih. Pepohonan yang daunnya berwarna hijau, kuning, dan merah, semakin membuat sungai tampak indah.

Seperti yang saya bilang tadi, pelayanan hotel tersebut khas tradisional Jepang: Semua pelayan menggunakan Kimono dan Yukatta. Kami pun diharuskan menggunakan Yukatta selama berada di hotel tersebut. Tentu saja ini pengalaman yang sangat menarik bagi saya selama tinggal di Jepang. Kami betul-betul sudah seperti orang Jepang. Untuk pertama kalinya pula saya makan malam khas ala tradisional Jepang, plus dengan Yukatta di badan. Begitu juga hal-hal lainnya: sarapan, ke kamar mandi, hingga tidur pun dengan Yukatta.

Selain itu, ada lagi yang cukup unik: mandi. Dalam kulutur tradisional masyarakat Jepang, juga dikenal kebiasaan mandi di Onsen, semacam pemanidan air hangat yang airnya langsung dari gunung. Di Indonesia, pemandian semacam ini mungkin juga ada beberapa. Namun di Jepang semua orang harus melepaskan pakaian. Tentu saja Onsens bagi laki-laki dan perempuan terpisah sendiri-sendiri. Tapi ya itu tadi, jika masuk ke area pemandian umum tersebut, semua orang harus melepaskan pakaiannya. Nah, apakah saya juga mencoba yang satu ini? Hah, silahkan menebaknya sendiri. Hehehe!

Di Nikko, selain mengunjungi Toshogu Shrine, Rinnoji Temple, dan Futarasan Shrine di Nikko City, sebelumnya kami juga mengunjungi tempat yang tak kalah menarik: Edo Wonderlan. Semacam kampung miniature masyarakat yang hidup di zaman Edo, sekitar tahun 1600-an. Layaknya sebuah perkampungan pada zaman tersebut, semua orang yang ada di dalamnya, dari yang berjualan, bermain, hingga pementasan theater, semuanya menggunakan pakaian tradional yang sehari-hari digunakan pada zaman Edo.

Jika di Indonesa anak-anak zaman dulu sering disuguhi film-film ninja, maka di Edomachi kami bertemu banyak Ninja. Kami menikmati suguhan theater Ninja serta pentas komedi yang sangat kocak (walaupun sebagian besar dialognya saya tidak faham). Dan ada lagi: Geisha performance. Pertunjukan tarian serta sedikit dari cara bagaimana seorang geisha menyuguhkan teh bagi para tamu. Tidak jauh berbeda dengan apa yang saya baca dalam novel Arthur Golden yang sangat terkenal, Memoirs of Geisha. Bedanya, saya menyaksikan langsung para geisha tersebut.

Banyak hal yang tampak mengagumkan di Nikko. Selain situs-situs sejarah yang eksotis, suasana alamnya juga sangat natural dan Indah, karena terawat dengan rapi. Begitu juga dengan musim gugur (autumn) yang terlihat penuh warna. Semuanya bahkan lebih tampak seperti bianglala. Sepanjang perjalanan hingga mengunjungi tempat-tepat wisata, kami disuguhi lanscap yang sangat memesona. Dari pohon-pohon rindang yang menjulang tinggi, daun-daun penuh warna, hingga water fall yang sungguh mengagumkan. Melihat warna alam yang begitu indah, saya seperti membayangkan sedikit dari serpihan surga di bumi. Ya, serpihan surga. Siapa bilang kalau surga hanya ada di alam akhir. Surga juga bisa diciptakan di bumi, bukan?

Masih ada sisa waktu esok hari menikmati keindahan alam yang tiap pohon dan daunnya menyimpan segenap cerita. Kami banyak belajar dari perjalanan esok harinya. Menikmati jalan kaki di bawah pohon-pohon rindang, serta bambu-bambu kecil yang menghiasi hampir seluruh hutan, tampak lebih hijau dari rumput-rumput yang menghiasi taman-taman indah. Menjadikan pohon-pohon rindang yang kami lewati serasa menjulang dengan gagah.

Sebelum menikmati lanscap lain esok harinya, malam itu kami menghabiskan waktu bersama bintang-bintang. Di tengah udara yang sangat dingin (berkisar 5 hingga 6 derajat celcius), dinginnya malam perlahan mulai menembus kulit hingga ke tulang putih kami. Kami pun berjalan bersama-sama ke bantaran sebuah danau—yang keesokan harinya, airnya yang jernih serta pepohonan yang penuh warna, tampak begitu indah menyambut matahari pagi. Ditemani seorang pemandu yang pernah bekerja lama di Tokyo National Museum, kami menatap langit hitam dan belajar kembali akan bintang-bintang, planet, serta galaksi, yang terhampar bebas di jagad raya luas. Masing-masing bintang seolah menuturkan kisahnya sendiri-sendiri. Kisah akan kehidupan dan keindahan.

Saya sangat berterimakasih kepada Japan Foundation, atas kebaikan dan rasa kekeluargaan yang terjalin di antara kami. Malam itu kami pun tertidur dengan nyenyak. Sebagian dari kami tampaknya membawa serta bintang-bintang ke dalam mimpi mereka tentang keindahan. Saya pun demikian, namun ternyata bukan mimpi tentang bintang.

October 09, 2009

Secangkir Teh Hijau di Okyokan Teahouse















Jalan-jalan | Faris Alfadh

Sejak menginjakkan kaki di Tokyo, Jepang, untuk pertama kalinya pertengahan September lalu, setiap akhir pekan atau hari libur lainnya, saya selalu menyempatkan diri berkunjung ke tempat-tempat wisata, atau sekedar menyapa sudut-sudut kota yang masih terasa asing. Hal ini saya lakukan selain karena hari itu memang libur (Senin hingga Jum’at biasanya saya habiskan di perpustakaan kampus Tokyo University of Foreign Studies, ataupun mengunjungi beberapa Professor di kampus lain), tempat-tempat tersebut juga menawarkan mozaik tersendiri sebagai salah satu cara menikmati atmosfir kota Tokyo—salah satu kota tersibuk di dunia, sekaligus terpadat penduduknya di Jepang.

Di Tokyo, tidak terlalu sulit mencari tempat berakhir pekan. Ada banyak tempat wisata dan juga public park yang bisa dikunjungi. Tempat-tempat di mana orang bisa berjalan santai bersama sanak famili, teman, ataupun kekasih. Tempat-tempat wisata diakronis seperti Shinso-ji Temple, Imperial Palace, Yasuki Shrine, Kamakura, bisa menjadi pilihan berplesir. Selain itu, beberapa museum dan public park juga cukup banyak. Bagi anak-anak muda dan para sosialita, tempat-tempat nongkrong gaul seperti Shibuya, Harajuku, Akihabara, Ueno, tentu tidak asing lagi. Nah akhir pekan lalu, Sabtu 3 Oktober, saya memilih berkunjung ke Tokyo National Museum (tidak jauh dari Ueno Park).

Saya menyambut senang ajakan Mba Erika beberapa hari sebelumnya, karena hari itu kebetulan diadakan acara kebudayaan yang cukup istimewa. Acara tersebut, menurut penyelengara, hanya diadakan dua kali dalam satu tahun. Sebenarnya acara tersebut diperuntukkan untuk menyambut bulan purnama pertama di musim gugur. Namun karena hari itu juga bertepatan dengan hari kemerdekaan Korea Selatan dan bersatunya Jerman Barat dan Timur, maka acara tersebut pun sengaja diberi tema “Cultural Exchange Day for Foreign Students”.

Selain itu, yang membuat kami dengan senang hati datang tentu saja karena acara hari itu free of charge alias gratis khusus bagi mahasiswa asing: cukup dengan memperlihatkan kartu mahasiswa. Bagi pelancong asing atau mahasiswa Jepang, tetap harus bayar. Tentu saja ini menyenangkan bagi kami, para perantau ilmu yang menggantungkan hidup dari beasiswa, karena bisa menghemat pengeluaran. Biasanya acara semacam ini bisa dikenakan charge 400-500 yen per acara. Nah jika mengikuti semua acara, bisa dihitung berapa yen yang harus kami keluarkan.

Di kota seperti Tokyo, kebiasaan berkunjung ke Museum (mungkin juga tidak jauh berbeda dengan kota-kota lainnya di negara maju), sudah jamak dilakukan. Tentu saja hal ini berbeda dengan yang kita alami di Indonesia. Jika anak-anak muda di Indonesia amat jarang berkunjung ke Museum, maka di Tokyo hal itu justru cukup menyenangkan. Hal ini bisa kita maklumi, karena Museum di Tokyo juga dikondisikan sebagai situs wisata yang sangat comfortable. Hal ini tentu sedikit berbeda dengan kondisi di Indonesia, di mana Museum masih belum memadai, koleksi benda-benda sejarah yang disediakan juga terkesan tidak menarik lagi karena tak cukup terawat.

Pengalaman akhir pekan kemarin bisa dibilang sangat menyenangkan. Banyak hal yang bisa saya ketahui hanya dari mengunjungi Museum selama satu hari itu. Bagi yang belajar sastra ataupun sejarah kebudayaan Jepang, tentu saja benda-benda yang ada di Museum tersebut sedikit banyak familiar. Nah bagi yang tidak, seperti saya misalnya, yang belajar Hubungan Internasional, isu-isu politik lah yang lebih kami akrabi.

Beberapa benda sejarah, baik yang berasal dari zaman pra sejarah hingga abad modern, sedikit menggambarkan bagaimana peradaban dan kebudayaan Jepang dibangun. Yang menarik adalah, banyak hal sederhana yang ternyata sangat menarik diketahui. Misalnya, Jepang yang di akhir abad ke-19 dan awal abad 20 begitu kuat secara militer, hingga pernah menjajah sebagian wilayah di negara-negara Asia Timur seperti Korea dan China, serta negara Asia Tenggara seperti Indonesia, ternyata dulu banyak dipengaruhi oleh kebudayaan China dan Korea.

Pada sekitar abad ke-7 hingga abad ke-9, misalnya, Jepang bahkan banyak mengirmkan pemuda-pemudanya untuk belajar ke China. Pada zaman inilah Jepang mengadakan pembaharuan kebudayaan besar-besaran. Salah satunya dengan meniru berbagai pranata dari China. Saya juga jadi tahu beberapa hal sederhana lainnya. Ternyata orang Jepang juga sudah megenal cobek (untuk mengulak sambal) sejak zaman pra sejarah. hehehe… Sebelumnya, di Jepang tidak ada yang namanya kuda. Kuda baru dikenal ketika interaksi dengan China mulai terjadi. Begitu juga dengan besi. Saya menduga (bisa jadi dugaan saya keliru), hal ini dikarenakan peradaban China lebih dahulu maju, sehingga beberapa elemen penting, seperti penemuan besi, di bawa dari China.

Namun demikian, di zaman Heian (kalau tidak salah sekitar abad ke-11), Jepang mulai menciptakan budaya khasnya sendiri, tentu saja masih menggunakan rujukan dari China. Salah satu yang dianggap penting adalah tulisan Kana . Namun di zaman Edo (wilayah yang dulu disebut Edo kini adalah Tokyo), sekitar abad ke-16, Jepang kemudian menutup diri dari segala pengaruh asing untuk selama kurun waktu tiga abad. Saya menduga, di periode inilah mulai banyak muncul kebudayaan asli Jepang. Jika selama ini kita sangat mengenal Kimono atau sering juga disebut Yukatta, pakaian tradisional Jepang, nah pakaian ini diyakini murni berasal dari kebudayaan Jepang.

Dari seluruh agenda yang saya ikuti di Museum akhir pekan lalu, hal yang paling menarik dan sangat berkesan bagi saya adalah “Japanese Tea Ceremony Performances”, atau upacara minum teh. Selain karena upacara ini menjadi salah satu ciri khas dari budaya Jepang, kesempatan untuk mengikutinya pun sangat jarang.

Upacara minum teh kemarin diadakan di “Okyokan Teahouse”, sebuah rumah tradisional Jepang yang terletak di taman belakang Museum, dikelilingi pepohonanan sakura yang rindang dan apik (bunga sakuranya masih belum mekar). Puri sederhana yang ada di dalamnya, mengingatkan saya pada rumah-rumah khas Jepang yang ada di film Oshin, film serial yang kerap saya tonton bersama Ibu ketika masih kecil dulu. Rumah kayu dengan pintu didorong ke samping, serta dinding-dindingnya yang terbuat dari bahan kertas tebal putih dengan aneka corak lukisan pohon sakura. Dan yang lebih menyenagkan lagi adalah, ternyata Okyokan Teahouse tersebut sudah digunakan sebagai tempat upacara minum teh oleh para bangsawan sejak zaman Edo, yaitu sekitar tahun 1600.

Saat itu syahdan, saya seolah membayangkan berada di zaman ketika Musashi masih hidup. Mengikuti langsung bagaimana seorang perempuan dengan pakaian Kimono lengkap menyajikan teh hijau khas Jepang yang sebelumnya sudah diracik sedemikian rupa dengan ritual-ritual khusus. Kita juga diajarkan cara meminum teh dengan elegan, yakni memutar mangkuknya dua kali ke arah kanan sebelum meminumnya. Dan sesudahnya, mangkuk pun harus diputar dua kali ke arah yang berlawanan untuk mengembalikan ke posisi semula. Bagi yang baru pertama kali mencoba teh hijau khas Jepang, mungkin akan terasa sedikit pahit. Namun setelah mencoba beberapa kali, maka sensasi teh hijau justru semakin terasa ma’nyus.













Kami cukup beruntung, sebenarnya, bisa mengikuti upacara minum teh tersebut. Karena acara tersebut hanya dibatasi bagi 30 orang saja. Bagaimana kami bisa masuk? Hah, tentu saja setelah kami mengantri selama satu setengah jam untuk mendapatkan tiket sebelum acara dimulai. Namun demi sebuah pengalaman yang tak ternilai harganya, menunggu pun tak sedikitpun terasa menyebalkan.


Seperti yang selalu saya yakini, salah satu hal yang paling menyenangkan dalam hidup adalah ketika kita bisa bertemu dengan banyak orang, banyak tempat, banyak budaya, dan (tentu saja) banyak makanan. Namun sayang, untuk urusan yang saya sebut terakhir, hanya beberapa jenis kuliner saja yang bisa cocok di lidah. hehehe.

March 27, 2009

Catatan Tentang Bangkok








Jalan-jalan | Faris Alfadh

Pada akhir September 2006 saya pernah menulis sebuah artikel di harian Kompas Jogja tentang situasi politik di Thailand. Di hari-hari sepanjang akhir tahun itu terjadi perubahan politik cukup drastis di Thailand akibat kudeta yang dilakukan militer atas PM Thaksin Shinawatra. Saat itu saya tidak sempat membayangkan suatu saat akan berkunjung ke negeri yang kerap mengalami kudeta politik tersebut (terbilang, Thailand telah mengalami lebih dari 19 kali kudeta sejak negara tersebut menganut sistem monarki konstitusional pada tahun 1932 ). Nah, beberapa waktu lalu saya mendapat kesempatan mengunjungi Thailand, atau tepatnya sekedar bejalan-jalan melihat kota Bangkok.

Tulisan ini adalah catatan ringan saya selama mengunjingi Thailand. Tentu saja deskripsi saya tentang Thailand berikut ini sangat subyektif, apalagi saya baru partama kali berkunjung. Karena itu tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai persepsi umum tentang kondisi Thailand sepenuhnya, mungkin hanya sebagai catatan pribadi atas kesan pertama saya sebagai pelancong.

***

Selama ini Thailand memang lebih dikenal sebagai tempat melancong, atau negara dengan land mark pariwisata. Namun kesan pertama saya ketika menginjakkan kaki di negara yang terkenal dengan gajah putihnya itu tidaklah terlalu istimewa, alias biasa-biasa saja. Menurut saya, apa yang dicari para wisatawan asing di Thailand sebanarnya bisa didapatkan di Indonesia.

Kedua negara juga memiliki kemiripan dalam beberapa hal. Di bidang ekonomi, misalnya, walaupun kondisi ekonominya sedang menggeliat namun Thailand belum pulih sepenuhnya pasca krisis Asia 1997. Begitu pula secara geografis, kedua negara juga memiliki kesamaan di mana tidak mengalami akselerasi sinifikan di bidang pembangunan. Di kawasan selatan seperti Sungai Kolok, Hat Yai, Ban Khubua, atau Ratchabury, tidak jauh berbeda dengan kondisi beberapa daerah bagian timur Indonesia. Hamparan sawah dan deretan pohon kelapa dapat kita lihat di sebagian tempat, beberapa di antaranya bahkan terlihat gersang. Di sepanjang kawasan ini juga terdapat bukit-bukit yang dipenuhi pepohonan, sebagian lagi bercadas. Tempat-tempat suburban pun masih khas negara berkembang: bangunan yang terlihat “tua”, tidak terlalu bersih, di beberapa tempat bahkan masih centang perenang. Tentu berbeda dengan kondisi perkotaan di Malaysia atau Singapura yang sedikit lebih bersih dan rapi.

Namun demikian tetap saja tourist asing yang mengunjungi Thailand (terutama kota Bangkok) jauh lebih banyak daripada jumlah pengunjung negara-negara ASEAN lainnya, termasuk Indonesia. Bangkok mungkin seperti sebuah pekan raya: pengunjung datang beramai-ramai untuk sekedar berjalan dan belanja, cuci mata, sampai menjajakan sesuatu.

Dalam hati saya bertanya-tanya: kenapa Thailand begitu menarik bagi wisatawan asing, baik dari Amerika, Eropa, negara Skandinavia, Asia Timur, bahkan Timur Tengah? Kenapa Indonesia (yang juga bisa menyediakan kenyamanan yang sama, bahkan mungkin lebih baik) belum mampu menarik wisatawan asing sebanyak Thailand? Jawaban atas pertanyaan saya ternyata mulai terkuak sedikit demi sedikit selama perjalanan menuju Bangkok.

Ketika saya dan beberapa teman sedang duduk santai di Hat Yai Station (daerah selatan Thailand) sambil menunggu kereta ekonomi yang menuju Bangkok, ada seorang perempuan yang parasnya (setidaknya menurut saya) cukup cantik menyapa kami. Saya menduga umurnya sekitar 30 tahun. Dia menegur dengan bahasa Thai. Mungkin karena mengira kami adalah orang lokal Thailand (maklum perbedaan wajah orang-orang di kawasan ASEAN tidak terlalu jauh karena konon masih satu ras: Mongoloid).

Tentu saja kami tidak paham dan balik merespon dengan bahasa Inggris dan mengatakan kami dari Indonesia. Dia pun tersenyum dan mengucapkan terimakasih karena kami sudah datang ke Thailand. Kami mengobrol santai tentang alasan traveling kami ke Bangkok dan menceritakan ke negara mana saja kami telah berkunjung. Dia juga bertanya apakah jumlah kami hanya berlima? Saya pun mengatakan bahwa ada beberapa teman lagi selain kami, dan dua orang lagi sedang menumpang mandi di toilet stasiun. Lalu dia sedikit mendekat ke arah saya dan bertanya apakah saya juga sudah mandi? “Nanti, setelah dua teman saya itu,” jawab saya. Namun tiba-tiba dia mengatakan “apakah kamu mau mandi bersama saya?” Ups, kontan saja saya terkejut. Geli juga mendengar ucapannya yang genit namun tanpa beban. Saya dan teman-teman pun kaget lalu tertawa. Dengan tersenyum saya menjawab sopan “tidak, terimakasih!”

Walaupun Thailand terkenal dengan “bonus” wisatanya (di sekitar Khaosan Road, tengah kota Bangkok, bahkan ada sebuah iklan yang berbunyi: “Good Night and Save Sex”) namun saya tahu mungkin ucapan perempuan tadi hanya basa-basi mencoba akrab dengan para wisatawan asing. Tetapi yang membuat saya respect adalah sikapnya yang ramah dan familiar. Bahkan di akhir “basa-basi” kami, dia sekali lagi mengucapkan terimakasih yang tulus atas kedatangan kami ke Thailand sambil diikuti sikap hormat khas Thailand: dengan menyatukan kedua telapak tangan di depan sambil sedikit menundukkan kepala.

Pelajaran nomor satu yang saya dapatkan adalah: tunjukkan keramahan pada setiap tamu yang datang!

Oke, mungkin tidak semua orang Thailand seramah perempuan tadi, tapi paling tidak selama berjalan-jalan di kota Bangkok, kami belum menemukan tempat di mana wisatawan asing merasa canggung. Atmosfir Bangkok seolah memanjakan para wisatawan.

Sikap welcome mereka juga saya rasakan sejak memasuki imigrasi Thailand. Para petugas imigrasi tidak segan-segan menunjukkan sedikit kehangatan dengan tersenyum. Tentu sangat kontras dengan sikap petugas imigrasi Malaysia atau Singapura yang terkesan “sombong” dan jutek karena tak pernah senyum (apalagi jika kita dari Indonesia).

Salah seorang teman saya, ketika memasuki imigrasi Thailand, passportnya ternyata tidak terdeteksi computer. Petugas imigrasi pun berusaha menjelaskan secara teknis. Teman saya nampaknya khawatir dan menjelaskan bahwa ia membuat paspornya dulu di Mesir dll. Petugas imigrasi pun berusaha menjelaskan dengan tenang bahwa itu bukan masalah serius. Hanya persoalan teknis dan bisa diatasi secara manual.

Kekhawatiran teman saya tentu bisa difahami karena, maklum, pengalaman kami beberapa hari sebelumnya yang “tidak menyenangkan” di imigrasi Malaysia dan Singapura. Jangankan paspor tidak terdeteksi, terjadi kesalahan pengejaan nama antara yang tertulis di passport dan arrived form saja, salah seorang teman saya harus diintrogasi di sebuah ruangan. Begitu juga jika foto yang tertera di passport terlihat sedikit berbeda dengan aslinya. Ada-ada saja alasan mereka untuk mengintrogasi. Bahkan dengan alasan yang tidak jelas sekalipun pun kami bisa diminta masuk ke sebuah ruangan dan ditanya ini itu.

Sikap ramah terhadap tamu sebenarnya juga sudah menjadi nilai luhur masyarakat kita. Di beberapa daerah, misalnya, keramahan pada orang lain sudah menjadi tradisi bahkan keharusan. Namun citra masyarakat Indonesia yang ramah, suka menolong, dan menghargai keragaman, akhir-akhir ini mulai ternodai dengan banyaknya kelompok-kelompok “perusuh”. Maraknya aksi kekerasan inilah yang membuat beberapa wisatawan asing enggan datang ke Indonesia, karena khawatir akan menjadi korban. Beberapa negara, seperti Australia, bahkan sempat mengeluarkan warning bagi warganya untuk sementara waktu tidak bepergian ke Indonesia.

Sebagai seorang muslim saya juga mengkritik sikap kelompok-kelompok Islam revivalis yang cenderung sektarian dan menggunakan cara-cara kekerasan. Aksi-aksi razia, penjarahan, hingga bom bunuh diri yang mereka lakukan tentu sangat merugikan kita sendiri sebagai masyarakat Indonesia. Akibatnya kesan ramah sebagai masyarakat yang hidup rukun dengan aneka suku budaya, yang dulu selalu kita yakini sejak di bangku sekolah dasar dengan slogan bhineka tungal ika hilang begitu saja oleh aksi-aksi tidak simpatik beberapa kelompok ini.

Nah, selain itu, Thailand juga menjadi tempat yang aman bagi wisatawan karena aktifitas politik tidak sampai mengangu sektor-sektor lain. Hal ini setidaknya terasa sekali di kota Bangkok. Walaupun beberapa waktu lalu terjadi demonstrasi besar-besaran dan sempat “menduduki” bandara internasonal Bangkok serta memaksa terjadinya pergantian kepemimpinan di tingkat Perdana Menteri, namun suasana kota Bangkok sama sekali tidak mencerminkan fluktuasi politik seperti yang kita rasakan di Jakarta, atau kota-kota besar lainnya di Indonesia. Aktifitas ekonomi di Bangkok jalan seperti biasa. Demikian juga para tourist yang tidak merasa terganggu dan tetap saja bisa berjalan-jalan santai, atau sekedar menikmati secangkir teh panas di pagi hari tanpa merasa terganggu.

Salah satu kendala—kalau tidak ingin disebut ketakutan—para wisatawan asing datang ke Indonesia adalah situasi politik yang mudah tersulut. Mereka masih khawatir dengan demokrasi Indonesia yang (kadang) tidak terorganisir. Tengok saja kasus beberapa pilkada akhir-akhir ini yang berujung rusuh. Belum lagi konflik kepentingan antar elit yang bisa berujung kekeraan kerumunan. Memang banyak juga wisatawan yang berkunjung ke beberapa tempat di Indonesia seperti Bali, Jogja, Jakarta dll, tetapi jumlah mereka relatif lebih sedikit dibanding yang datang ke Bangkok.

Kota Bangkok juga tampak bersih dari atribut politik. Jangan harap anda akan menemukan satu poster atau spanduk dalam bentuk apa pun yang memuat gambar para politisi atau partai politik tertentu. Bahkan gambar seorang Perdana Menteri tak satu pun nongkrong di ruang publik. Di mana-mana yang ada hanya gambar Raja Thailand Bhumibol Adulyadej. Kata beberapa orang, hal itu karena Raja sudah menjadi simbol keadilan, stabilitas, dan kesejahteraan. Dan para politisi, kata mereka, hanya akan mengotori keindahan kota saja. Hmm…

Berbeda jauh dengan aktifitas politik di Indonesia, terutama akhir-akhir ini, yang mempertontonkan “narsisme” para caleg kita. Menurut saya, gambar-gambar caleg yang dipasang di mana-mana itu sudah sampai pada taraf mengotori pemandangan: sungguh menggangu! Tak ada lagi nafas bagi sudut-sudut kota, tembok lengang di ruas-ruas jalan, bahkan tiang listrik sekalipun semuanya disesaki stiker, spanduk, poster, dan baliho yang bertumpuk-tumpuk. Kita memang mendapat berkah dari demokrasi, namun bagaimanapun, demokrasi yang masih centang perenang ini harus terus ditata dengan baik.

Begitu juga dengan kehidupan sosial dan keagamaan. Kelompok-kelompok yang cenderung sektarian dalam memandang persoalan dan bersifat “revivalis”, harus diwaspadai karena akan mengancam kehidupan berdemokrasi serta interaksi masyarakat yang plural.

Oya, lain waktu semoga saya bisa berkunjung lagi ke Bangkok. Atau mungkin kota-kota lainnya.

July 25, 2007

Pertemuan

-- Faris Alfadh

Malam ini aku kembali tak bisa memejamkan mata. Bukan karena aku seorang insomnia, yang biasa berlama-lama menikmati malam dengan secangkir kopi, sembari berdiskusi menanti habisnya malam. Bukan! Aku bukanlah seperti itu.

Aku biasa tertidur lelap di waktu yang tidak terlalu larut. Namun entah, aku tak ingat lagi kapan terakhir itu terjadi.

Aku tak bisa tidur. Benar-benar mata ini tak bisa kupejamkan. Bukan karena ku tak kuasa. Tetapi aku takut untuk memejamkan mata. Aku takut tertidur dan melihat duniaku melalui ruang yang tak kukenal. Aku takut bayangan itu datang lagi. Setiap kali ku tertidur, ia selalu datang menyapa. Jika malam ini mata tetap kupejamkan, entah ia akan jadi malam keberapa.

Malam kemaren bayangan itu datang lagi. Sebenarnya aku lebih suka menyebutnya memori. Karena ia datang begitu dekat, seolah pernah kualami sebelumnya. Apakah aku melintasi patahan waktu? Atau aku berjalan di atas waktu yang melingkar, lalu suatu kali tak sengaja bersinggungan dengan patahan yang pernah kulewati? Entahlah. Aku semakin bingung saja.

Tetapi sebentar! Ya, aku yakin, itu aku! Aku adalah seorang serdadu di negeri yang tak kukenal itu. Aku merasa diriku tidak di zaman ini, tetapi berpuluh tahun yang lalu, atau bahkan sebelum kakek buyutku dilahirkan. Aku meraba diriku. Adakah benar ini aku? Kurasakan wajahku, ya, ini aku. Tak berubah sedikit pun. Tangan, kaki, semuanya. Bajuku. O, hanya bajuku yang berbeda. Baju ini sangat kusam. Tetapi kenapa aku berada di sebuah tempat yang aneh di masa lalu? Aku seolah tersesat dalam labirin kekosongan. Hampa namun tak ada jalan keluar kudapati.

Bersama serdadu lainnya, aku menelusuri kota ini melaui pinggiran. Menyisir beberapa tempat. Mendapatkan bangunannya yang hancur, kumuh seolah baru saja dihujani rudal. Bangunan-bangunan itu berdiri berjejeran, terlihat kusam, tak lagi layak dihuni. Kota ini mecekam. Gelap, tak ada secercah sinar. Orang-orang kuperhatikan tak ada yang bertahan. Nenek itu hanya diam, duduk memandang hampa. Negeri yang asing. Tapi kenapa aku mengenali mereka? rumah-rumah yang tak berpenghuni itu, dan…ya, sebuah negeri yang tenggelam. Mengerikan sekali. Tak ada kehidupan tak ada yang bertahan, kecuali kami: para serdadu.

O, aku ingat. Bukankah ini belahan kota di indonesiaku? Dulu. Aku yakin itu! Aku pernah berada di sini, berjalan menysuri kota. Tetapi kapan? Aku adalah serdadu bangsaku. Bangunan-bangunan yang hancur itu, bukankah sekarang di atasnya berdiri apartemen dan vila-vila mewah? Bukankah orang-orang itu kini menjelma dalam keragaman? Bukan! Bukan keragaman. Tetapi perbedaan, yang tiap kali rentan disulut kebencian satu sama lain. Inikah yang kemudian menjadi sumber konflik?

Aku takut memori kehancuran itu datang lagi dalam tidurku malam ini. Kupandangi, sudah pukul 02:10. Waktu yang sangat larut bagiku. Aku tak tahu persis apakah aku mengalami dilatasi waktu? Apakah ada “aku” di masa yang lalu, yang selanjutnya, bagian dari memorinya juga mengikutiku ? atau ada “aku” yang lain di waktu yang sama dalam dimensi ruang yang berbeda?

Tiga malam yang lalu bahkan lebih mengerikan. Dalam tidurku aku duduk termangu. Suara teriakan seorang perempuan meminta pertolongan memecah keheninganku. Aku berlari, berlari sekuatnya. tetapi yang kudapati, ia sudah berlalu, dengan bekas hujanan peluru di dadanya. Darah mengucuri tanah berbau. Aku hanya bisa memandangi musuhku meninggalkannya. Aku tak kuasa. Aku bersalah. Aku berteriak. Bayangan ini selalu menghantuiku…

Adakah aku tertidur? Sepertinya belum. Aku terus saja memikirkannya. Tidak, aku berusaha terus memikirkannya, sambil menjauhkan hasrat mataku yang segera ingin menyudahi fikiranku. Tetapi sebentar! Bukan. Sepertinya itu bukan masa lalu. Kupandangi bangunan itu. Bukankah itu gedung-gedung yang kini ada di kota-kota negeriku? Tetapi kenapa yang tersisa tinggal puing-puing kehancuran? Sepertinya ia hancur dirusak zaman, tak ada yang merawat. Nenek yang duduk murung itu, adakah ia wajah para pengungsi? Atau wajah bangsaku? Mencekam, adakah ini masa depan negeriku? O, negeri yang tengelam itu, ya, bukankah ia Porong Sidoarjo? Semuanya berubah. Inikah masa depan indoensiaku? Aku melihatnya, merasakannya. Aku berada di dalamnya. Tetapi bagaimana?

Aku salah. Aku tak berada di masa lalu. Aku berada di masa depan. Berpuluh tahun dari sekarang. Seolah aku melintasi patahan waktu yang akan kualami. Jika ada yang meyakini “keberulangan kembali”, dejavu, dan yang lainnya, atau apalah namanya. Apakah ini sebaliknya? Aku mengalami sesuatu yang akan kualami. Mungkinkah! O, kepalaku jadi pusing.

Aku tidak bermimpi, itu jelas bagian dari perjalanan memoriku. Tetapi yang jelas, mimpi ini, para serdadu, semuanya, tidaklah datang secara kebetulan. Aku yakin tak ada yang kebetulan. Puing-puing itu, kami para serdadu, nenek itu, negeri yang tengelam, semuanya bukanlah kebetulan. Aku memang belum membaca habis The Celestine prophecy-nya James Redfield. Tetapi aku tahu, wawasan pertamanya bahwa “tidak ada yang kebetulan” adalah benar.

Malam ini aku ingin sekali memejamkan mataku. Tetapi bayangan itu… Kembali kupandangi jam di atas mejaku. Pukul 03:05. Aku harus tidur. Ya, harus. Bagaimanapun besok pagi aku harus kuliah. Besok adalah kesempatan terakhirku. Sudah tiga kali aku bolos. Satu kali lagi, ya, satu kali lagi. Kalian tahu itu... 70%... aku harus tidur. Aku tahu itu… zzz…!!!

Sebentar, sebelum aku tertidur. Aku teringat temanku Fahd yang akan menerbitkan bukunya Insomnia-Amnesia dalam bulan ini. Kuucapkan selamat! Aku ingin membacanya. Adakah ia juga menulis apa yang kualamai ini?

gambar dari sini