Showing posts with label kontemplasi. Show all posts
Showing posts with label kontemplasi. Show all posts

March 17, 2012

Paradise












Penganut Protestan percaya bahwa setiap orang sudah ditakdirkan akan masuk ke surga atau neraka. Namun persoalannya, belum ada satupun manusia yang pernah ke tempat tersebut. Sehingga setiap orang diserang kecemasan yang sama, karena sedikitnya kepastian akan akhir takdir mereka: apakah di surga atau negara.

Karenanya penganut Protestan percaya, cara terbaik untuk mengetahui takdir mereka, sekaligus mengakhiri rasa cemas, adalah memastikannya di dunia ini. Yakni dengan keberhasilan dan kejayaan hidup!

Jika seseorang berhasil dan mencapai kejayaan hidup di dunia, maka dapat dipastikan takdirnya adalah di surga. Sebaliknya, jika keberhasilan dan kejayaan menjauh dari hidupannya, maka itu cukup sebagai penanda akan akhir nasibnya di neraka.

Max Weber, dalam bukunya yang sangat terkenal, The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism (1958), menjelaskan bahwa keyakinan inilah yang membuat penganut Protestan berusaha dengan keras untuk mencapai kesuksesan dan kejayaan hidup. Bukan untuk kaya secara materi (pada awalnya), tetapi untuk mengatasi kecemasan mereka. Weber percaya etos yang ia sebut sebagai etika protestan inilah yang kemudian turut menjadi pendorong majunya kapitalisme dan kemakmuran ekonomi di Eropa Barat dan Amerika Serikat.

Di sini ini kita melihat bagaimana konsep surga dan neraka, bagi kaum Protestan, hadir dalam kecemasan yang khas. Ia sebentuk kekhawatiran sekaligus harapan. Namun yang paling penting ia melahirkan dorongan untuk mencapai kebaikan.

Tentu tidak semua sependapat dengan pengertian ini. Karena setiap orang, dalam memaknai surga dan neraka, punya tafsirnya sendiri. Setiap keyakinan dan agama memiliki ajarannya sendiri. Namun percaya atau tidak, konon sebuah pertanyaan tentang surga dan neraka pernah diajukan kepada para malaikat.

“Apa itu surga?” Para mailaikat kemudian menjawab: “Sesungguhnya setiap hati yang dipenuhi dengan cinta kasih adalah surga.” Lalu neraka? Malaikat melanjutkan: “Hati tanpa cinta kasih di dalamnya adalah neraka itu sendiri.”

Bagi manusia, surga pada akhirnya adalah konsep absrtak sekaligus akrab. Ia hadir dalam setiap diri manusia (yang percaya), dalam bentuk kecemasan sekaligus kebahagiaan. Pusarannya adalah hati dan jiwa itu sendiri. Kedamaian hati menentukan ketentraman hidup. Sebaliknya, kecemasan hati membawa serta siksaan hidup.

Tidak heran jika penganut Protestan, dalam pengertian yang disampaikan Weber, berusaha mencapai kejayaan hidup. Kekayaan dan kemajuan bukan tujuan (akhir) dari kerja keras. Upaya menghilangkan kecemasanlah alasannya.

Dengan kata lain, kebahagiaan yang ingin diraih adalah kedamaian dalam diri. Mereka berusaha menemukan “surga” dalam hidup ini melalui kepuasan dan kepastian. Kejayaan dan kesuksesan diyakini mampu menghilangkan kecemasan akan takdir buruk.

Mungkin itu pula yang membuat Islam menempatkan hati dan jiwa pada posisi yang istemewa. Setiap perbuatan bahkan ditentukan oleh niat dari dalam hati—yang tentu saja hanya Tuhan dan pemilik hati yang tahu.

Ada yang tampak baik di mata orang ramai, ada pula yang tidak lazim di permukaan. Namun pada akhirnya kualitas hati dan jiwa yang sangat menentukan.

Jika surga dimaknai sebagai kebahagiaan, maka setiap orang punya jalan masing-masing menuju surga. Kadang jalan itu berliku dan terjal, yang membuat manusia berkelahi dengan nisan nasibnya sendiri. Seperti berjalan di rute yang panjang—bahkan teramat panjang. Manusia diajarkan tentang satu tafsir kebajikan yang ia pungut satu demi satu di setiap perhentiannya. Pada akhirnya ia tahu bahwa ujung jalan menjanjikan sesuatu yang berarti.

Saya percaya dunia tak ditakdirkan jadi surga, memang. Dan kekuasaan Tuhan lah yang menentukan kita ke surga atau neraka. Namun, paling tidak, kita masih bisa memastikan ada surga dalam hidup ini. Dengan memenuhi hati dengan cinta kasih. Itulah yang membuat hidup lebih berarti, dan tak lagi cemas.

Seperti adagium lama dari Persia: Why seek paradise? It is before me now! Mengapa mencari “surga” di kejauhan sana, bukankah ia ada dalam diri kita. Setiap orang, pada akhirnya, punya surganya sendiri. Beberapa dari kita mungkin saja belum menemukannya, atau mungkin sedang menciptakannya!

Faris Alfadh

image from here

July 25, 2007

Pertemuan

-- Faris Alfadh

Malam ini aku kembali tak bisa memejamkan mata. Bukan karena aku seorang insomnia, yang biasa berlama-lama menikmati malam dengan secangkir kopi, sembari berdiskusi menanti habisnya malam. Bukan! Aku bukanlah seperti itu.

Aku biasa tertidur lelap di waktu yang tidak terlalu larut. Namun entah, aku tak ingat lagi kapan terakhir itu terjadi.

Aku tak bisa tidur. Benar-benar mata ini tak bisa kupejamkan. Bukan karena ku tak kuasa. Tetapi aku takut untuk memejamkan mata. Aku takut tertidur dan melihat duniaku melalui ruang yang tak kukenal. Aku takut bayangan itu datang lagi. Setiap kali ku tertidur, ia selalu datang menyapa. Jika malam ini mata tetap kupejamkan, entah ia akan jadi malam keberapa.

Malam kemaren bayangan itu datang lagi. Sebenarnya aku lebih suka menyebutnya memori. Karena ia datang begitu dekat, seolah pernah kualami sebelumnya. Apakah aku melintasi patahan waktu? Atau aku berjalan di atas waktu yang melingkar, lalu suatu kali tak sengaja bersinggungan dengan patahan yang pernah kulewati? Entahlah. Aku semakin bingung saja.

Tetapi sebentar! Ya, aku yakin, itu aku! Aku adalah seorang serdadu di negeri yang tak kukenal itu. Aku merasa diriku tidak di zaman ini, tetapi berpuluh tahun yang lalu, atau bahkan sebelum kakek buyutku dilahirkan. Aku meraba diriku. Adakah benar ini aku? Kurasakan wajahku, ya, ini aku. Tak berubah sedikit pun. Tangan, kaki, semuanya. Bajuku. O, hanya bajuku yang berbeda. Baju ini sangat kusam. Tetapi kenapa aku berada di sebuah tempat yang aneh di masa lalu? Aku seolah tersesat dalam labirin kekosongan. Hampa namun tak ada jalan keluar kudapati.

Bersama serdadu lainnya, aku menelusuri kota ini melaui pinggiran. Menyisir beberapa tempat. Mendapatkan bangunannya yang hancur, kumuh seolah baru saja dihujani rudal. Bangunan-bangunan itu berdiri berjejeran, terlihat kusam, tak lagi layak dihuni. Kota ini mecekam. Gelap, tak ada secercah sinar. Orang-orang kuperhatikan tak ada yang bertahan. Nenek itu hanya diam, duduk memandang hampa. Negeri yang asing. Tapi kenapa aku mengenali mereka? rumah-rumah yang tak berpenghuni itu, dan…ya, sebuah negeri yang tenggelam. Mengerikan sekali. Tak ada kehidupan tak ada yang bertahan, kecuali kami: para serdadu.

O, aku ingat. Bukankah ini belahan kota di indonesiaku? Dulu. Aku yakin itu! Aku pernah berada di sini, berjalan menysuri kota. Tetapi kapan? Aku adalah serdadu bangsaku. Bangunan-bangunan yang hancur itu, bukankah sekarang di atasnya berdiri apartemen dan vila-vila mewah? Bukankah orang-orang itu kini menjelma dalam keragaman? Bukan! Bukan keragaman. Tetapi perbedaan, yang tiap kali rentan disulut kebencian satu sama lain. Inikah yang kemudian menjadi sumber konflik?

Aku takut memori kehancuran itu datang lagi dalam tidurku malam ini. Kupandangi, sudah pukul 02:10. Waktu yang sangat larut bagiku. Aku tak tahu persis apakah aku mengalami dilatasi waktu? Apakah ada “aku” di masa yang lalu, yang selanjutnya, bagian dari memorinya juga mengikutiku ? atau ada “aku” yang lain di waktu yang sama dalam dimensi ruang yang berbeda?

Tiga malam yang lalu bahkan lebih mengerikan. Dalam tidurku aku duduk termangu. Suara teriakan seorang perempuan meminta pertolongan memecah keheninganku. Aku berlari, berlari sekuatnya. tetapi yang kudapati, ia sudah berlalu, dengan bekas hujanan peluru di dadanya. Darah mengucuri tanah berbau. Aku hanya bisa memandangi musuhku meninggalkannya. Aku tak kuasa. Aku bersalah. Aku berteriak. Bayangan ini selalu menghantuiku…

Adakah aku tertidur? Sepertinya belum. Aku terus saja memikirkannya. Tidak, aku berusaha terus memikirkannya, sambil menjauhkan hasrat mataku yang segera ingin menyudahi fikiranku. Tetapi sebentar! Bukan. Sepertinya itu bukan masa lalu. Kupandangi bangunan itu. Bukankah itu gedung-gedung yang kini ada di kota-kota negeriku? Tetapi kenapa yang tersisa tinggal puing-puing kehancuran? Sepertinya ia hancur dirusak zaman, tak ada yang merawat. Nenek yang duduk murung itu, adakah ia wajah para pengungsi? Atau wajah bangsaku? Mencekam, adakah ini masa depan negeriku? O, negeri yang tengelam itu, ya, bukankah ia Porong Sidoarjo? Semuanya berubah. Inikah masa depan indoensiaku? Aku melihatnya, merasakannya. Aku berada di dalamnya. Tetapi bagaimana?

Aku salah. Aku tak berada di masa lalu. Aku berada di masa depan. Berpuluh tahun dari sekarang. Seolah aku melintasi patahan waktu yang akan kualami. Jika ada yang meyakini “keberulangan kembali”, dejavu, dan yang lainnya, atau apalah namanya. Apakah ini sebaliknya? Aku mengalami sesuatu yang akan kualami. Mungkinkah! O, kepalaku jadi pusing.

Aku tidak bermimpi, itu jelas bagian dari perjalanan memoriku. Tetapi yang jelas, mimpi ini, para serdadu, semuanya, tidaklah datang secara kebetulan. Aku yakin tak ada yang kebetulan. Puing-puing itu, kami para serdadu, nenek itu, negeri yang tengelam, semuanya bukanlah kebetulan. Aku memang belum membaca habis The Celestine prophecy-nya James Redfield. Tetapi aku tahu, wawasan pertamanya bahwa “tidak ada yang kebetulan” adalah benar.

Malam ini aku ingin sekali memejamkan mataku. Tetapi bayangan itu… Kembali kupandangi jam di atas mejaku. Pukul 03:05. Aku harus tidur. Ya, harus. Bagaimanapun besok pagi aku harus kuliah. Besok adalah kesempatan terakhirku. Sudah tiga kali aku bolos. Satu kali lagi, ya, satu kali lagi. Kalian tahu itu... 70%... aku harus tidur. Aku tahu itu… zzz…!!!

Sebentar, sebelum aku tertidur. Aku teringat temanku Fahd yang akan menerbitkan bukunya Insomnia-Amnesia dalam bulan ini. Kuucapkan selamat! Aku ingin membacanya. Adakah ia juga menulis apa yang kualamai ini?

gambar dari sini