Showing posts with label sajak. Show all posts
Showing posts with label sajak. Show all posts

November 03, 2012

Prophecy



















Engkau dilahirkan ketika gajah-gajah lebih mengetahui kebenaran, dan burung-burung menukikkan keadilan; cahaya bersinar terang benderang, hingga membuat kastil-kastil Bostra di Syria dapat terlihat

*
Tuhan mendapatimu sebagai yatim yang kekurangan, lalu memberikanmu kecukupan dan perlindungan; seisi alam memberkatimu bahkan sebelum engkau dilahirkan, tatkala namamu disebut jauh sebelum dirimu

*
Kebesaranmu telah diramalkan oleh seorang pendeta yang menghuni biara tua; tatkala segumpal awan bergelayut rendah di atas barisan musafir kelana, menjauhkan terik dari dirimu yang singgah di bawah pohon kurma

*
Engkau yang dijuluki al-amin, menyempurnakan segala bentuk nubuat; orang-orang memohon berkat darimu, dalam tiap doa yang engkau takzimkan, bahkan di atas jaminan kemuliaanmu


Faris Alfadh
2012

Image from here

September 02, 2011

Sepuluh Mozaik Purnama
















:untuk e.r. yang namanya hadir dalam do'a malamku


1
seperti rekahnya matahari pagi, dalam keindahan yang merona; aku mencintaimu sudah sejak pertama kali, tanpa kau sadari; perlahan-lahan dalam embun yang jatuh, bersama kicau burung yang berbagi simfoni di pagi yang tak utuh.

2
seperti musim gugur, menantimu membuatku melewati sekian banyak musim; merindukan hadirmu membuatku tertatih menatap puluhan warna asing tak menentu.

3
tuhan menubuatkan selarik wahyu dalam bilangan cara, hingga membuat para rasul berjalan dalam barisan kafilah; untuk mencintaimu tuhan hanya menuntunku dengan satu cara, menyegarkan hatiku yang paruh dengan kasih surga.

4
para musafir mencari keindahan dalam warna merah yang merekah, dalam bisikan angin yang menghembus dingin; namun aku menemukannya di balik diam senyummu, di setiap kesunyianku yang menyela.

5
aku tahu cintamu tak hadir dalam bentuknya yang sempurna, seratus persen; tapi bukankah hidup tak pernah bisa dibangun dengan utuh dari cinta yang sudah penuh? karena ia tak lagi menyisakan ruang untuk berbagi, dan berbakti; izinkan cintaku mengisi sedikit ruang di hatimu yang masih tersisa, menyiram kembali cinta dalam jiwamu, hingga ia bersemi kembali.

6
aku mencintaimu walaupun hidup tak pernah sempurna; seperti para gembala yang tersisa di gurun-gurun tandus; mungkin engkau masih menyisakan sedikit ruang tentang masa lalu, atau meninggalkan sedikit cinta akan sesosok waktu; aku hanya ingin menjadi bagian dari masa depanmu, karena itu aku mencintaimu, seiring waktu.

7
adakah engkau tahu, setiap penyair ingin memahat kekasihnya di atas batu nisan hidupnya; aku? ah, hanya ingin menghabiskan sisa hidupku dalam gubuk tua hingga membuatmu mencintaiku; menuntunmu tersenyum tanpa kata di sepanjang senja, di setiap musim.

8
pernah suatu kali seorang lelaki tua datang dari puri tak bernama; konon ia dibesarkan oleh rahim bukit yang bercadas; ia bertanya "siapakah yang selalu kau sebut dalam doa-doa malammu?".

9
ia adalah kekasihku, yang bersedia aku cintai dalam kehangatan yang lembut, meskipun getir hadir dalam matanya yang paling sendu; aku ingin menghapus air matanya di setiap tangisan yang terdengar lamat-lamat, lalu bersamanya meraih bianglala yang tampak indah, dari atas perahu bercadik merah.

10
tuhan lalu mendatangiku dalam suara, aku menatapnya dengan tanya; aku berkata, "aku ingin menikah dengan kekasihku di bawah cerlang purnama, di dalam lingkaran obor emas yang menyala-nyala".

Faris Alfadh
2/9/2011

image from here

June 10, 2011

Jendela di Awal Pagi




















Dari jendela yang hening di awal pagi
kadang kita melihat mimpi di kejauhan
dalam bentuk penyesalan dan harapan

Doa tentang keba(j)ikan dipanjatkan
sebagai hikayat yang ingin dicapai
seolah kesedihan hadir dalam jumlah tak terkira

Pilu kehidupan kadang mengecewakan
seperti kematian yang sudah dinubuatkan
namun layaknya cahaya biru safir, sisi lain selalu hadir

Kebahagiaan bukanlah suara menyalak di ujung jalan
ia hadir dalam setiap kebaikan di relung jiwa
di balik jendela yang perlahan mulai terbuka


Faris Alfadh
11/06/2011

image from here

April 05, 2010

Hujan di Sepanjang Senja






















: Mengenang 100 hari wafatnya Gus Dur

Saya menulisnya ketika beliau berpulang 30/12/2009


Dari bahu kanal sebuah sungai
tak ada lagi yang tampak di kejauhan
selain hujan di sepanjang senja

Sedu sedan kemudian menyela
dan kami pun tahu, itu pertanda
engkau telah tiada

Selamat jalan, Gus
yang tercium kini hanya bau semerbak
dan itu engkau, yang berbagi begitu banyak


Faris Alfadh
image from here

March 17, 2010

Dusun di Pucuk Bukit



















Tuhan pernah berbicara kepadanya
Tapi ia curiga jangan-jangan
Tuhan tak pernah berkenan

Hingga ia menemukan sebuah dusun
di pucuk bukit, setelah berjalan kaki
ribuan mile bersama istri yang tegar

Seorang anak kemudian dikaruniakan
kepadanya, darinya ia belajar
tentang ikhlas dan sabar


Faris Alfadh
2009

image from here