October 29, 2009

Nikko: Musim Gugur, Kembali ke Edo, hingga Mimpi tentang Bintang














Catatan | Faris Alfadh

Daun yang berubah warna menjadi kuning keemasan atau merah marun, memancarkan keindahan tersendiri seiring angin musim gugur menyapa pepohonan yang perlahan melepaskan daun-daun mereka berguguran ke tanah. Keindahan akan musim gugur selama ini hanya bisa saya nikmati melalui lukisan cerita dan poster-poster. Maklum di Indonesia dan juga negara-negara tropis lainnya hanya ada musim panas (yang kadang kebangetan) serta musim hujan (yang kerap membawa serta banjir).

Saat ini Jepang sedang memasuki musim gugur, namun masih awal-awal. Sehingga di sebagian besar prefecture, pergantian musim yang ditandai dengan perubahan warna serta gugurnya daun-daun, belum tampak sempurna—termasuk di Tokyo. Namun hari Kamis hingga Sabtu 22-24 Oktober kemarin, saya betul-betul menyaksikan keindahan musim gugur, tatkala bersama beberapa teman yang juga menerima beasiswa riset Jenesys Programme dari Japan Foundation berkunjung ke Nikko—salah satu tempat wisata paling eksotis di Jepang, kurang lebih tiga jam dari Tokyo. Di Nikko musim gugur datang lebih awal.

Sebelum ke Nikko, Kamis pagi, kami diberi waktu untuk melakukan research presentation di kantor pusat Japan Foundation Tokyo. Dihadiri beberapa Officer JF serta tiga Professor dari kampus terkemuka di Jepang. Dan untuk pertama kalinya pula kami, para penerima beasiswa, bertemu. Ada sekitar delapan belas mahasiswa Master dan Ph.D. (yang tentu saja masih muda-muda), datang dari negara-negara se-Asia Pacific dan tersebar di beberapa kampus di Jepang. Kebetulan dari Indonesia dua orang: saya dan Retno, mahasiswi master Japanese Studies, UI.

Sungguh menyenangkan bertemu dengan teman-teman baru dari berbagai negara ini. Selain masih muda-muda mereka juga tampak sangat bersemangat. Mengakrabi teman-teman baru dari berbagai negara ini memberikan pelajaran tersendiri. Paling tidak saya mulai bisa mengidentifikasi satu demi satu kebiasaan dan sifat mereka, terutama terkait representasi kultur sosial negara masing-masing.

Indonesia, Malaysia, dan Singapore, karena ketiga negara jiran ini memiliki kedekatan etnis budaya dan bahasa (Singapore, walaupun bahasa yang kerap digunakan adalah Inggris, namun official language mereka tetap bahasa melayu), kami cenderung cepat akrab. Apalagi selama perjalanan, kami kadang bercakap dengan bahasa melayu. Begitu pula teman-teman dari Thailand dan Laos. Selain dekat secara territorial, bahasa yang digunakan oleh kedua negara ini pun sama persis.

Yang menarik adalah teman kami dari Miyanmar (Burma). Mereka cenderung tidak terlalu banyak bicara, apalagi mengenai persoalan politik. Saya menduga ini terkait situasi politik negara mereka yang masih di bawah junta militer. Apalagi prospek demokrasi di negara ini masih limbung dan terlihat suram. Kasus penahanan Aung San Suu Kyi, misalnya, yang kerap diperbincangkan hangat di dunia internasional, menjadi bukti bahwa demokrasi di negara yang telah diperintah oleh militer sejak tahun 1988 ini sulit bernafas. Kasus ini pula yang kerap menjadi kendala dalam forum-forum ASEAN, terkait proses demokratiasasi dan HAM.

Sementara itu teman-teman kami dari Jepang, yang sekaligus sebagai tuan rumah, rata-rata sangat baik. Namun terdapat sedikit perbedaan secara kultur sosial, terutama dengan kita dari Indonesia. Tidak seperti orang Indonesia yang suka ngobrol dan cepat akrab dengan orang lain, walau baru kenal di kereta lima menit yang lalu. Nah, orang-orang Jepang tidak demikian. Mereka lebih bisa mengendalikan diri untuk tidak membicarakan hal-hal paling personal. Mereka baru akan banyak terbuka jika betul-betul sudah akrab dan merasa sangat comfortable.

Dari semua participants, yang paling asyik sekaligus “heboh” tentu saja dari India. Di Indonesia kebudayaan India mungkin tidak terlalu asing, terutama karena faktor film-film Bollywood yang cukup banyak digandrungi. Kultur yang sangat khas adalah tarian dan nyanyian. Teman-teman saya di Jogja bahkan berkelakar mengenai kebiasan orang India yang suka bernyanyi dan menari ini. Kata mereka, jika melihat pohon dan taman dengan bunga-bunga saja, maka orang-orang India akan spontan langsung menyanyi. Nah apakah hal itu memang benar? Tentu saja saya tidak percaya. Wong selama ini kita hanya berkelakar, dan yang kita tonton juga film yang bisa jadi tidak sepenuhnya benar.

Namun dalam perjalanan dengan bus wisata ke Nikko kemarin. Ada yang menarik. Syahdan, tiba-tiba saja seorang perempuan berdiri dan berbicara dengan suara agak sedikit tinggi. Intinya ia meminta perhatian dari kami semua. Ya, ternyata teman kami dari India. Kami menunggu apa gerangan yang akan ia katakana selanjutnya. Dan ternyata:

“We have songs for you, guys.” (gubraak!!)

Walhasil, sepanjang perjalanan, tour guide leader kami pun sibuk mondar-mandir mempersiapkan alat untuk bernyanyi: dari microphone hingga beberapa hal yang siap mengubah bus wisata kami menjadi ruang karaoke!

***
Banyak sekali pengalaman menarik dan unik yang saya alami selama di Nikko. Salah satunya adalah menginap di daerah Kinugawa Onsens (kalau saya tidak salah). Sebuah Hotel dengan pelayanan khas tradisional Jepang, terletak di kaki sebuah bukit, tepat di pinggir sungai yang airnya mengalir jernih. Pepohonan yang daunnya berwarna hijau, kuning, dan merah, semakin membuat sungai tampak indah.

Seperti yang saya bilang tadi, pelayanan hotel tersebut khas tradisional Jepang: Semua pelayan menggunakan Kimono dan Yukatta. Kami pun diharuskan menggunakan Yukatta selama berada di hotel tersebut. Tentu saja ini pengalaman yang sangat menarik bagi saya selama tinggal di Jepang. Kami betul-betul sudah seperti orang Jepang. Untuk pertama kalinya pula saya makan malam khas ala tradisional Jepang, plus dengan Yukatta di badan. Begitu juga hal-hal lainnya: sarapan, ke kamar mandi, hingga tidur pun dengan Yukatta.

Selain itu, ada lagi yang cukup unik: mandi. Dalam kulutur tradisional masyarakat Jepang, juga dikenal kebiasaan mandi di Onsen, semacam pemanidan air hangat yang airnya langsung dari gunung. Di Indonesia, pemandian semacam ini mungkin juga ada beberapa. Namun di Jepang semua orang harus melepaskan pakaian. Tentu saja Onsens bagi laki-laki dan perempuan terpisah sendiri-sendiri. Tapi ya itu tadi, jika masuk ke area pemandian umum tersebut, semua orang harus melepaskan pakaiannya. Nah, apakah saya juga mencoba yang satu ini? Hah, silahkan menebaknya sendiri. Hehehe!

Di Nikko, selain mengunjungi Toshogu Shrine, Rinnoji Temple, dan Futarasan Shrine di Nikko City, sebelumnya kami juga mengunjungi tempat yang tak kalah menarik: Edo Wonderlan. Semacam kampung miniature masyarakat yang hidup di zaman Edo, sekitar tahun 1600-an. Layaknya sebuah perkampungan pada zaman tersebut, semua orang yang ada di dalamnya, dari yang berjualan, bermain, hingga pementasan theater, semuanya menggunakan pakaian tradional yang sehari-hari digunakan pada zaman Edo.

Jika di Indonesa anak-anak zaman dulu sering disuguhi film-film ninja, maka di Edomachi kami bertemu banyak Ninja. Kami menikmati suguhan theater Ninja serta pentas komedi yang sangat kocak (walaupun sebagian besar dialognya saya tidak faham). Dan ada lagi: Geisha performance. Pertunjukan tarian serta sedikit dari cara bagaimana seorang geisha menyuguhkan teh bagi para tamu. Tidak jauh berbeda dengan apa yang saya baca dalam novel Arthur Golden yang sangat terkenal, Memoirs of Geisha. Bedanya, saya menyaksikan langsung para geisha tersebut.

Banyak hal yang tampak mengagumkan di Nikko. Selain situs-situs sejarah yang eksotis, suasana alamnya juga sangat natural dan Indah, karena terawat dengan rapi. Begitu juga dengan musim gugur (autumn) yang terlihat penuh warna. Semuanya bahkan lebih tampak seperti bianglala. Sepanjang perjalanan hingga mengunjungi tempat-tepat wisata, kami disuguhi lanscap yang sangat memesona. Dari pohon-pohon rindang yang menjulang tinggi, daun-daun penuh warna, hingga water fall yang sungguh mengagumkan. Melihat warna alam yang begitu indah, saya seperti membayangkan sedikit dari serpihan surga di bumi. Ya, serpihan surga. Siapa bilang kalau surga hanya ada di alam akhir. Surga juga bisa diciptakan di bumi, bukan?

Masih ada sisa waktu esok hari menikmati keindahan alam yang tiap pohon dan daunnya menyimpan segenap cerita. Kami banyak belajar dari perjalanan esok harinya. Menikmati jalan kaki di bawah pohon-pohon rindang, serta bambu-bambu kecil yang menghiasi hampir seluruh hutan, tampak lebih hijau dari rumput-rumput yang menghiasi taman-taman indah. Menjadikan pohon-pohon rindang yang kami lewati serasa menjulang dengan gagah.

Sebelum menikmati lanscap lain esok harinya, malam itu kami menghabiskan waktu bersama bintang-bintang. Di tengah udara yang sangat dingin (berkisar 5 hingga 6 derajat celcius), dinginnya malam perlahan mulai menembus kulit hingga ke tulang putih kami. Kami pun berjalan bersama-sama ke bantaran sebuah danau—yang keesokan harinya, airnya yang jernih serta pepohonan yang penuh warna, tampak begitu indah menyambut matahari pagi. Ditemani seorang pemandu yang pernah bekerja lama di Tokyo National Museum, kami menatap langit hitam dan belajar kembali akan bintang-bintang, planet, serta galaksi, yang terhampar bebas di jagad raya luas. Masing-masing bintang seolah menuturkan kisahnya sendiri-sendiri. Kisah akan kehidupan dan keindahan.

Saya sangat berterimakasih kepada Japan Foundation, atas kebaikan dan rasa kekeluargaan yang terjalin di antara kami. Malam itu kami pun tertidur dengan nyenyak. Sebagian dari kami tampaknya membawa serta bintang-bintang ke dalam mimpi mereka tentang keindahan. Saya pun demikian, namun ternyata bukan mimpi tentang bintang.

3 comments:

  1. wahh....jadi mupeng ngliat tulisanmu ris, hehe.. jepang emang eksotis, tapi btw yang cerita mandi menarik juga...haha...

    ReplyDelete
  2. cerita yg pas mandi emang jd pengalaman paling menarik, sof. hahaha...

    oya, makasih sof atas sarannya untuk epengaturan comment. dr kemaren aku jg bingung ngaturnya di mana. hehe...

    ReplyDelete