September 02, 2011

Sepuluh Mozaik Purnama
















:untuk e.r. yang namanya hadir dalam do'a malamku


1
seperti rekahnya matahari pagi, dalam keindahan yang merona; aku mencintaimu sudah sejak pertama kali, tanpa kau sadari; perlahan-lahan dalam embun yang jatuh, bersama kicau burung yang berbagi simfoni di pagi yang tak utuh.

2
seperti musim gugur, menantimu membuatku melewati sekian banyak musim; merindukan hadirmu membuatku tertatih menatap puluhan warna asing tak menentu.

3
tuhan menubuatkan selarik wahyu dalam bilangan cara, hingga membuat para rasul berjalan dalam barisan kafilah; untuk mencintaimu tuhan hanya menuntunku dengan satu cara, menyegarkan hatiku yang paruh dengan kasih surga.

4
para musafir mencari keindahan dalam warna merah yang merekah, dalam bisikan angin yang menghembus dingin; namun aku menemukannya di balik diam senyummu, di setiap kesunyianku yang menyela.

5
aku tahu cintamu tak hadir dalam bentuknya yang sempurna, seratus persen; tapi bukankah hidup tak pernah bisa dibangun dengan utuh dari cinta yang sudah penuh? karena ia tak lagi menyisakan ruang untuk berbagi, dan berbakti; izinkan cintaku mengisi sedikit ruang di hatimu yang masih tersisa, menyiram kembali cinta dalam jiwamu, hingga ia bersemi kembali.

6
aku mencintaimu walaupun hidup tak pernah sempurna; seperti para gembala yang tersisa di gurun-gurun tandus; mungkin engkau masih menyisakan sedikit ruang tentang masa lalu, atau meninggalkan sedikit cinta akan sesosok waktu; aku hanya ingin menjadi bagian dari masa depanmu, karena itu aku mencintaimu, seiring waktu.

7
adakah engkau tahu, setiap penyair ingin memahat kekasihnya di atas batu nisan hidupnya; aku? ah, hanya ingin menghabiskan sisa hidupku dalam gubuk tua hingga membuatmu mencintaiku; menuntunmu tersenyum tanpa kata di sepanjang senja, di setiap musim.

8
pernah suatu kali seorang lelaki tua datang dari puri tak bernama; konon ia dibesarkan oleh rahim bukit yang bercadas; ia bertanya "siapakah yang selalu kau sebut dalam doa-doa malammu?".

9
ia adalah kekasihku, yang bersedia aku cintai dalam kehangatan yang lembut, meskipun getir hadir dalam matanya yang paling sendu; aku ingin menghapus air matanya di setiap tangisan yang terdengar lamat-lamat, lalu bersamanya meraih bianglala yang tampak indah, dari atas perahu bercadik merah.

10
tuhan lalu mendatangiku dalam suara, aku menatapnya dengan tanya; aku berkata, "aku ingin menikah dengan kekasihku di bawah cerlang purnama, di dalam lingkaran obor emas yang menyala-nyala".

Faris Alfadh
2/9/2011

image from here

No comments:

Post a Comment