
:untuk e.r. yang belum (sempat) kukenal
Bagi seorang wartawan yang terjebak dalam perang seperti Gaza, apalagi yang ingin kuketahui selain ke mana hidup akan berlaju? Bubuk-bubuk mesiu, rudal-rudal yang ditembakkan saban hari, tiap ledakan yang menghujam dan menghancurkan rumah-rumah, tergambar jelas dalam potret-potret kusam. Korban berjatuhan di mana-mana tak lagi kuasa kusaksikan: kematian itu sendiri terasa begitu dekat, dekat sekali.
Sejak serangan membabi buta yang dilancarkan Israel, aku terjebak dan bertahan di Kota Gaza bersama beberapa jurnalis lainnya. Kami kerap mencium aroma dingin kelabu yang biasa menyelubungi kematian orang-orang Palestina. Berbeda dengan para wartawan yang tidak diperbolehkan masuk dan hanya bertahan di perbatasan Rafah.
Walaupun situasi semakin mengerikan di Gaza, tapi hari-hai ini aku teringat kembali ketika pertama kali menjadi kuli tinta sepuluh tahun lalu. Aku juga ingat betapa aku hampir tertembus peluru ketika melaporkan menit-menit terakhir lepasnya Timor-Timur, serta Kudeta atas PM Thaksin di Thailand. Ketika konflik Israel-Palestina meluas hingga ke Lebanon tahun 2006, aku pun segera berada di perbatasan Lebanon.
Tetapi untuk saat ini, yang ada dalam pikiranku hanyalah er. Aku ingat senyum gadis itu ketika dua pasang mata kami beradu pandang untuk pertama kali. Hatiku berdegup kencang. Demikianlah bahasa cinta. Bahasa yang lebih tua dari umur manusia, dan lebih kuno dari padang pasir. Sesuatu yang hanya diketahui ketika dua pasang mata beradu pandang.
Sebenarnya aku belum cukup lama mengenalnya. Ceritanya berawal dari ide Bukde yang ingin memperkenalkanku dengan putri teman satu mengajarnya di sekolah. Tak usahlah aku ceritakan panjang lebar pertemuan kami, tatapan yang membuat kami saling jatuh hati, atau paras er yang cantik jelita serta pancaran hatinya yang damai. Cukuplah aku katakan sejak pertemuan pertama kami lebaran lalu, aku sudah tahu ia adalah bagian dari mimpiku. Saat itu aku berpikir, bukankah ini yang dinamakan maktub–sesuatu yang telah dituliskan?
Pihak keluarga sebenarnya sudah merencanakan hari pernikahan dalam waktu dekat. Namun aku meminta agar diundur sampai aku diberi cuti kerja.
“Pertengahan tahun ini, insyaallah,” janjiku. Beberapa hari kemudian aku langsung kembali ke Jakarta.
Aku masuk ke Palestina bulan November lalu, menumpang kapal aktivis asing Free Gaza Movement yang mengangkut bantuan makanan obat-obatan untuk warga Gaza yan terisolasi. Aku termasuk sedikit di antara wartawan asing yang bertahan di Jalur Gaza ini.
Pada hari penyerangan Israel tanggal 27 Desember itu, aku sedang berada di kamp pengungsi Maghazi di tengah-tengah Jaur Gaza yang menampung 45 ribu warga Palestina. Kamp yang sudah ada sejak tahun 1949 di kawasan Deir al-Balah, di atas tanah seluas 5,6 kilometer persegi. Aku masih ingat waktu itu pukul 11.30, udara terasa dingin meski matahari bersinar cukup cerah. Tiba-tiba saja terdengar ledakan amat keras, disusul asap hitam membumbung ke langit. Sejak itu tak ada lagi awan biru menyelimuti Gaza. Semuanya berubah sejak hari itu.
Di tengah situasi mengerikan ini, aku berusaha untuk terus waras. Sebagai wartawan, aku pun terkadang ikut emosional karena tak bisa lagi menahan kemarahan melihat mayat anak-anak diangkut lalu disholatkan secara massal di sebuah tanah lapang. Dalam hati, aku terus bertanya mengapa Israel menyebut ini perang melawan Hamas? Selain itu, aku pun turut membantu beberapa teman wartawan luar negeri yang tak dapat akses ke Gaza.
Di sela waktu berteduh, aku duduk bersama debu yang bercampur bau darah, sambil menatap bangunan yang tak lagi berbentuk. Saat seperti inilah ingatanku melayang nun jauh pada er. Sedang apa dia sekarang? Ah, mungkin ia sedang bermain bersama anak-anak tetangga, atau menyiram tanaman di depan rumah. Atau dia juga sedang menyaksikan kekacauan di Gaza ini? Yang bisa kulakukan hanyalah mengirim surat, itulah satu-satunya cara agar ia tahu keadaanku–setidaknya ia tahu aku baik-baik saja.
Terdapat beberapa surat darinya dalam Inbox email-ku. Nampaknya ia ikut khawatir.
“Aku selalu berdoa semoga kau diberikan keselamatan,” demikian kata-kata yang ia tulis dan selalu kuingat. Setidaknya ini membuatku lega. Ia mencintaiku. Aku tahu, ia memang bagian dari mimpiku.
Dalam emailku, aku pun bercerita cukup panjang, dan berharap semoga ia tak bosan membacanya. Entah, aku sebenarnya tak ingin dia khawatir, aku hanya ingin dia tahu, itu saja.
Hari keempat setelah mesin perang Israel menembus biru langit Gaza, pesawat-pesawat tempur F-16 serta helikopter CH-53 terus menembakkan rudalnya: Bangunan porak-poranda, mulai dari kantor polisi, kementerian dalam negeri, universitas, hingga masjid. Tapi bukan para angota Hamas yang jadi sasaran, warga sipil lah yang bergelimpangan mati.
“Wilayah ini kehilangan banyak warga spil,” ceritaku pada er.
Aku juga bercerita bagaimana mengerikannya perang ini. Apalagi ketika pasukan Israel memulai serangan darat pada 4 Januari. Aku mendengar cerita dari beberapa penduduk, bahwa tentara Israel menembaki sebuah rumah yang separuhnya berisi anak-anak.
“Sehari sebelumnya tentara Israel mengungsikan sekitar 110 warga sipil ke rumah yang letaknya di tenggara Gaza,” kata salah satu dari mereka. “Namun 24 jam kemudian rumah yang mereka tumpangi justru ditembaki tentara Israel.”
Yang membuatku amat terpukul selanjutnya adalah ketika ambulans yang membawa paramedis dan korban serangan ikut dibombardir Israel di kawasan Beit Lahiyah. Salah seorang temaku, dokter Paletsina bernama Abed Arafa, tewas di tempat. Dia dokter yang baik, kataku. Kematian mereka membuatku tak paham apa yang sesungguhnya diinginkan Israel.
Aku tak tahu, seperti apa reaksi er membaca suratku ini. Aku belum lama mengenalnya, memang. Begitupun dengannya. Tapi aku begitu menyayanginya. Aku ingin ia mengetahui sedikit diriku lewat cerita-ceritaku ini. aku ingin ia yakin padaku bahwa aku juga bagian dari mimpinya. Apakah cinta kami terlalu cepat? Aku tak perduli, bukankah orang dicintai karena ia memang dicintai, dan tak perlu alasan untuk mencintai, bukan?
Sudah tiga bulan lebih sejak keberadaanku di sini. Aku sedikit bersyukur. “Kini situasinya sudah membaik,” gumamku dalam hati.
Situasi di wilayah Jalur Gaza memang relatif tenang menyusul pemberlakuan gencatan senjata sepihak Israel, setelah 22 hari menyerang Gaza habis-habisan. Namun pencarian mayat di balik puing-puing bangunan tentu tak surut. Sehari sebelum gencatan senjata, sekitar 100 mayat ditemukan. Penemuan itu menambah jumlah kematian rakyat Palestina menjadi 1.330 orang–400 di antaranya anak-anak dan 104 perempuan. Sekitar 5.300 orang luka-luka. Sementara di pihak Israel hanya 13 orang meninggal. Perang memang membuat semua berantakan. Perang membuat semua orang sengsara.
Meski demikian helikopter dan pesawat tempur Israel masih terbang di atas Gaza. Bunyi tembakan tank dan artileri Israel juga masih saja terdengar meski gencatan senjata itu sudah berlaku. Tapi setidaknya keadaan sudah jauh lebih baik. Beberapa wartawan serta para relawan yang dulu hanya tertahan di Rafah juga sudah ada yang masuk membantu evakuasi, begitu juga dengan bantuan makanan, serta obat-obatan. Aktifitas Gaza berangsur pulih. Anak-anak pun mulai ke sekolah.
Aku mendapat kabar dari kantor di Jakarta. Mereka mengharapkan aku kembali. Mengingat akan keselamatanku serta situas yang sudah kian membaik di Jalur Gaza. Berita-berita tentang Palestina (Gaza) akan dilimpahkan kepada salah satu rekanku yang sejak lama bertugas di wilayah Mesir.
Pikiranku langsung tertuju pada er. Aku begitu bahagia akan kembali menemuinya. Kini senyum manisnyanya tergambar jelas di hadapanku, juga kedamaian yang ia pancarkan.
“Kalau aku memang bagian dari mimpimu, suatu hari nanti kau pasti kembali,” Aku ingat sekali kata-kata yang ia ucapkan itu. Seperti yang sering diucapkan wanita gurun untuk suami-suami mereka.
“Ya, hari itu akan tiba, er,” ucapku dalam hati. Sebenatar lagi.
Siang itu aku mengirimkannya email, mengabarkan dengan bahagia bahwa dua hari lagi aku akan pulang. Tak sabar rasanya segera bertemu.
“Tunggu aku, er!”
Hari ini ia sumringah, seolah menunngu tak sabar. Ia tak lagi resah. Angin gunung membawa wangi asap kayu yang terbakar, samar-samar entah dari mana. er duduk di kursi depan layat tivi. Dia tersenyum mekar seperti mawar segar. Ia bahagia, Bennadi akan segera kembali hari ini.
“Situasi sudah cukup aman,” kata Bennadi dalam suratnya yang dikirim dua hari lalu. “Aku sudah membereskan barang-barangku, besok aku kembali lewat Mesir.”
Sementara di layar tivi, ia meihat berita yang melaporkan tadi malam Israel telah melancarkan serangan ke Kota Gaza. Dilaporkan setelah 21 hari pasca gencatan senjata pesawat-pesawat tempur milik Israel kembali mengebom perbatasan Jalur Gaza dan Mesir.
“Sedikitnya 18 warga Palestina—termasuk lima orang wartawan, dua di antaranya dari Indonesia,” demikian kata berita di tivi itu.
Keadaan sunyi untuk sejenak. er terkejut. Duduknya tak lagi tenang. Ia berpikir jangan-jangan… sementara gambar-gambar di layar tivi tak lagi jelas baginya. Angin yang bertiup terasa panas, entah, dia memberanikan diri berpikir Bennadi sudah berangkat tadi pagi dan melewati perbatasan Rafah.
“Hallo..,” suara Ibunya yang mengangkat telepon di ruang sebelah. er tak bisa mendengarkan suara yang bercakap-cakap. Tapi ia menangkap nada aneh. Ibunya terdiam lama.
“Dari siapa Bu?” Tanya er dengan tergesa. Ibunya tak menjawab.
Ibunya berjalan perlahan ke arahnya dalam diam. Ia tahu... Tiba-tiba dadanya terasa sesak. Pikirannya berkecamuk. Kakinya tak kuasa menahan seluruh badan yang sudah mau rubuh. Air matanya mengalir, tak kuasa ia tahan. Sementara di layar tivi, penyiar terus mengabarkan wartawan asal Indonesia yang menjadi korban sudah diketahui identitasnya dan pemerintah telah mengabarkan pihak keluarga.
er memeluk Ibunya dengan erat. Pipinya yang basah tak lagi merona. Ia memandang awan-awan, merasakan tiupan angin, daun-daun yang bergerak berirama, seolah berharap Bennadi mengucakan sesuatu lewat mereka.
Faris Alfadh | Fiksi
Image karya Teshigawara Saburo, 'Fragments of Time'

wah..kenapa bennadi harus mati? gmana kalu ceritanya, ada berita bennadi mati, tapi ternyata ia selamat dan sedang berada di belakang er..hehe..biar kayak pelem india..
ReplyDeleteanyway..bagus dan menyentuh ris :D gutlak!
nice story :D
ReplyDelete